Minggu, November 15, 2009

Virtual Screening: Jawaban Untuk Pencarian Obat

Dari sumberdaya-sumberdaya hayati asli Indonesia (tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan biota laut), al-hamdu lillah, telah dicuplik ribuan senyawa Karbon, dan ratusan di antaranya telah diungkap strukturnya secara akurat. Prestasi ilmiah ini merupakan buah kolektif dari ketekunan para peneliti Kimia Organik se-Indonesia, yang sebagian di antaranya merupakan anggota HKBAI (Himpunan Kimia Bahan Alam Indonesia). Ini adalah sebuah organisasi profesi yang didirikan pada tahun 1980 oleh Prof. Sjamsul Arifin Achmad (Guru Besar Kimia Organik ITB) dkk untuk misi pengungkapan struktur senyawa-senyawa Karbon hayati di atas. Turut menunjang kegiatan pengungkapan struktur tersebut: alat NMR (Nuclear Magnetic Resonance) 500 MHz yang terdapat di Pusat Penelitian Kimia - LIPI, Tangerang Selatan, yang merupakan NMR paling tajam di Indonesia (frekuensi paling besar) dan satu-satunya NMR di Indonesia dengan frekuensi tersebut. Alat ini mulai dioperasikan pada tahun 2005, dan hingga kini menjadi langganan para peneliti Kimia Organik se-Indonesia.

Dengan kelimpahan data struktur senyawa Karbon tersebut, yang menjadi tugas selanjutnya adalah mengungkap potensi manfaat senyawa-senyawa Karbon itu, antara lain sebagai calon obat. Ini adalah bidang penelitian lainnya yang digarap oleh para peneliti Biokimia / Farmakologi. Berbagai teknik dapat digunakan untuk keperluan ini, mulai dari pengujian kimiawi untuk aktivitas antibiotika (in-vitro) hingga pengujian terhadap hewan-hewan uji (in-vivo). Semuanya dilakukan di laboratorium basah.

Pengujian aktivitas calon-calon obat di laboratorium basah, bila dilakukan dengan skala besar, akan menggunakan banyak sumberdaya (bahan dan alat laboratorium, serta tenaga, waktu, dan dana). Ada teknik untuk memandu pengujian itu agar berlangsung secara hemat, yaitu penyaringan struktur calon-calon obat itu dengan bantuan komputer (virtual screening).

Baru-baru ini, di Vrije Universiteit, Belanda dilakukan virtual screening terhadap sebuah pangkalan data yang berisi 1.016 buah senyawa Karbon yang mirip strukturnya. Di dalam pangkalan data itu, telah disisipkan 14 buah senyawa agonis dari reseptor ADRB2 (Adrenergic Beta 2) yang sebagian di antaranya telah dipasarkan sebagai obat asma, dan juga 14 buah senyawa antagonisnya. Dengan teknik virtual screening itu, berhasil disaring secara bersih 12 dari 14 buah agonis itu (sensitivitas ~ 85 %), tanpa 1.012 senyawa lainnya. Penyaringan ini memakan waktu total beberapa jam saja!

Oleh mahasiswa yang sama di universitas tersebut, dilakukan pula virtual screening dengan saringan lainnya untuk memperoleh senyawa antagonisnya saja. Sekali lagi, diperoleh hasil yang tajam, yaitu: 10 dari 14 antagonis tersebut (sensitivitas ~ 71 %) secara cepat, tanpa 1.006 senyawa lainnya.

Bayangkan bila saringan itu diterapkan terhadap suatu pangkalan data yang berisi ratusan senyawa Karbon dari tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan biota laut se-Indonesia. Dengan cepat kita dapat menemukan calon-calon obat asma di antara ratusan senyawa hayati tersebut, tanpa perlu lebih dulu mengujinya satu-persatu di laboratorium basah. Karena itu, teknik virtual screening sungguh bermanfaat di dalam mengungkap potensi senyawa-senyawa Karbon itu sebagai calon obat, khususnya bagi perusahaan-perusahaan obat Indonesia yang selama ini secara rutin melakukan pengujian di laboratorium basah.



Temuan di atas bukanlah merupakan kebetulan, melainkan hasil dari metode komputasi yang logis dan sistematik. Yang didayagunakan di dalam metode komputasi ini adalah farmakofor, yaitu gugus-gugus dari senyawa obat yang berinteraksi dengan target obat (di dalam kasus ini: reseptor ADRB2). Farmakofor tiap ligan (senyawa pasangan) target obat bersifat khas, sehingga hasil penyaringan calon-calon obat dengan farmakofor itu menjadi sangat tajam. Karena menyadari kehandalan teknik ini lah, barangkali, John H. van Drie dari perusahaan Novartis meramalkan bahwa pada suatu saat, mungkin “Virtual screening will become routine” di perusahaan-perusahaan obat.

(Tulisan ini juga merupakan ungkapan selamat atas dikukuhkannya Bp. DR. L.B.S. Kardono, Kepala Pusat Penelitian Kimia – LIPI sebagai Profesor Riset bidang Kimia Organik, pada tanggal 12 November 2009.) ■

Jumat, September 25, 2009

Mengenang Chris Oostenbrink



Tidak disangka, dosen kami, dr. Chris Oostenbrink dari laboratorium Computational Medicinal Chemistry & Toxicology akan pindah ke Vienna University, Austria bulan depan. Konon, di sana beliau akan diangkat menjadi profesor. Saya bersyukur kepada Allah bahwa saya pernah dibimbing oleh beliau secara langsung di dalam riset pendek (minor research) di laboratorium beliau.

Chris (demikian saja kami memanggilnya) berumur kira-kira 1 tahun lebih tua dari saya, dan belum menikah. Tetapi, di dalam usia semuda itu, beliau sudah memperoleh kedudukan yang terhormat di bidang Komputasi Biomolekul di Eropa. Beliau lah orang pertama yang mengusulkan penggabungan model LIE (Linear Interaction Energy) dan model OSP (One Step Perturbation) untuk penghitungan energi Gibbs penambatan ligan (Journal of Computational Chemistry, 30(2), 212-221). Gabungan kedua metode itu dapat menghasilkan penghitungan energi Gibbs penambatan yang lebih akurat daripada metode-metode itu masing-masing, dan lebih akurat daripada persamaan pemeringkatan (scoring function) pada program-program pengedokan (molecular docking). Hal ini telah dibuktikan oleh Penulis sendiri di dalam riset pendeknya.

Kapasitas dan semangat belajar beliau luar biasa. Dulu, beliau meraih gelar master dari Vrije Universiteit, Belanda di 2 bidang pada tahun yang sama, yaitu di bidang Kimia Medisinal dan Kimia Teoritik. Dengan latar belakang ini, wajarlah bila beliau mampu memadukan kedua bidang tersebut untuk menghasilkan terobosan baru di atas. Agaknya, beliau dipilih dan disiapkan oleh Tuhan untuk menghasilkan terobosan tersebut bagi umat manusia. Pada saat mempertahankan tesis doktoralnya di ETH Zurich, Swiss mengenai penghitungan energi Gibbs penambatan, beliau diuji oleh 4 orang masya-ikh (profesor) paling terpandang di bidang Komputasi Biomolekul di Eropa, yaitu: Prof. Alan Mark (perintis program GROMACS), Prof. Gerd Folkers, Prof. Johan Aqvist (pencetus model LIE), dan Prof. Wilfred van Gunsteren (pembimbing beliau, perintis force field GROMOSS).

Chris mengelola sebuah laboratorium yang bersifat multibangsa. Di sana ada tangan kanan beliau, seorang peneliti pasca-doktoral dari Slovenia; lalu ada mahasiswa doktoral bimbingan beliau dari Jerman dan India, mahasiswa S2 dari Portugal, dan saya dari Indonesia. Untuk mengelola laboratorium seperti demikian, seseorang harus sangat fasih berbahasa Inggris. Dan demikianlah Chris: beliau bicara dengan lancar dan cepat. Saking fasihnya beliau berbahasa Inggris, kalau kita memotong ucapannya sekadar untuk menunjukkan bahwa kita memahaminya, kita malah kehilangan pengetahuan-pengetahuan berharga dari beliau. Itu lah yang saya alami sewaktu dibimbing oleh beliau. Jadi, lebih baik mendengarkan beliau sampai tuntas dengan rendah hati daripada kehilangan pengetahuan-pengetahuan tersebut :-).

Beliau tidak sungkan didatangi di ruangannya ketika sedang sibuk untuk ditanyai atau dimintai bantuan tentang penelitian saya. Kalau ternyata beliau harus melihat pekerjaan saya di layar komputer saya di laboratorium, sedangkan beliau sedang sibuk atau ada keperluan, maka beliau membuat janji untuk itu: “OK, I'll be there in 5 minutes”, atau “I will come to you after lunch”. Lalu beliau benar-benar datang sesuai janjinya. Beliau kemudian menjawab pertanyaan atau menyelesaikan persoalan penelitian saya dengan tuntas (dan beliau sangat mahir di dalam hal itu). Dengan cara itu, saya memperoleh pengetahuan-pengetahuan teknis komputasional secara rinci dari beliau.

Beliau adalah orang yang menjunjung tatakrama. Beliau tidak mengungkapkan kekesalannya kepada mahasiswa bimbingannya secara vulgar. Ketika menegur saya atas keterlambatan saya datang ke laboratoriumnya pada suatu hari, beliau dengan lembut berkata: “We want you to come here more regularly (lebih teratur), so that we'll know where to find you in case we need you”. Karena kesopanannya, mahasiswa bimbingannya tidak kapok dibimbing oleh beliau (Benarlah kata Rasulullah SAW bahwa bersama kelembutan selalu ada kebaikan). Dan karena beliau selalu memberikan pujian atas kerja keras dan capaian mahasiswanya (walaupun capaian itu barangkali biasa-biasa saja), mahasiswanya menjadi termotivasi untuk terus melakukan riset di bawah bimbingannya.

Seorang ustadz di Jakarta pernah memberi nasihat bahwa hendaknya kita belajar sesuatu langsung kepada ahlinya (talaqqi), tidak hanya secara otodidak, agar ilmu yang kita peroleh benar-benar otentik. Dengan demikian, kita bisa mempertanggungjawabkan asal-usul ilmu kita, sebagaimana tradisi perawi hadits di dalam menyebutkan asal-usul (sanad) hadits yang dibacakannya: “Haddatsana Fulan, 'an Fulan ibnu Fulan ...”. Saya beruntung dapat menyebutkan sanad ilmu Komputasi saya: “Haddatsani Chris Oostenbrink, 'an Wilfred van Gunsteren ...”. ■

Sabtu, Juli 25, 2009

Manfaat Komputasi di dalam Pencarian Obat

Ikhtiar pencarian obat (drug discovery) terdiri dari 2 tahap, yaitu: (1) menyediakan calon obat untuk diuji aktivitasnya; (2) menguji aktivitas calon obat itu. Kedua tahap ini, hingga kini, telah mengalami berbagai perkembangan.

Dahulu, calon obat dicari pada sumber-sumber hayati yang lazim, yaitu tumbuhan dan hewan. Belakangan, calon obat dicari pula pada sumber-sumber hayati lainnya, yaitu mikroorganisme (terutama fungi) dan biota laut (terutama spons). Dahulu, calon obat disediakan dalam bentuk ramuan bahan-bahan dari tumbuhan atau hewan. Kemudian, orang menemukan cara untuk mencuplik (mengisolasi) kandungan aktif dari campuran itu, yaitu suatu senyawa organik, sehingga senyawa itu sajalah yang diuji aktivitasnya. Senyawa bioaktif inilah yang sebenarnya dinamakan obat (drug). Lebih lanjut, orang mampu menyintesis senyawa itu atau senyawa lainnya yang strukturnya mirip dengan senyawa itu (analognya), atau mengubah (memodifikasi) senyawa itu dengan teknik-teknik Sintesis Organik, sehingga produk sintesis itulah yang diuji aktivitasnya sebagai calon obat.

Pada awalnya, calon obat diuji langsung terhadap manusia. Namun, setelah orang menyadari resiko yang dapat ditimbulkan oleh calon obat, maka calon obat itu diuji lebih dulu secara in-vitro (terhadap enzim, sel, atau mikroorganisme pada alat gelas) atau in-vivo (terhadap rodensia, lalu mammalia), sebelum terhadap manusia.

Salah satu capaian yang patut disyukuri di dalam perkembangan pencarian obat adalah disadarinya hubungan antara struktur calon obat dan aktivitasnya (Structure-Activity Relationship = SAR). Telah disinggung di atas bahwa obat pada hakikatnya merupakan suatu senyawa organik bioaktif. Senyawa ini memiliki struktur atau kerangka Karbon yang unik, yang dapat diungkap dengan alat Nuclear Magnetic Resonance (NMR). Keunikan struktur senyawa tersebut berpengaruh terhadap aktivitasnya. Buktinya adalah: bila struktur itu diubah, maka aktivitasnya dapat berubah pula.

Contoh hubungan struktur-aktivitas itu ada pada sebuah paten Indonesia mengenai Kalanon yang diajukan oleh Hanafi dkk dari Pusat Penelitian Kimia – LIPI (nomor pendaftaran: P00200600674). Kalanon (calanone, C27H20O5) adalah suatu senyawa organik berujud padatan kuning muda, yang dapat dicuplik dari getah pohon Bintangor Batu (Calophyllum teysmannii) di hutan Kalimantan. Senyawa ini memiliki aktivitas yang rendah (IC50 > 20 μg/mL) terhadap biakan sel kanker HCT116. Pada tahun 2005, Hanafi dkk mengubah gugus keto dari senyawa tersebut menjadi gugus hidroksi, lalu mengubah gugus hidroksi itu menjadi gugus ester (Gambar). Ester tersebut ternyata memiliki aktivitas in-vitro yang lebih tinggi (IC50 = 1,29 μg/mL). Dari temuan ini, dapat disimpulkan bahwa pengubahan gugus keto pada Kalanon menjadi gugus ester dapat meningkatkan aktivitasnya secara in-vitro.



Penelitian mengenai Kalanon di atas bersifat coba-coba (trial and error). Ada sejumlah produk modifikasi Kalanon yang disintesis dan diuji aktivitasnya oleh Hanafi dkk, yang memberikan aktivitas-aktivitas yang rendah, sebelum mereka memperoleh hasil terbaik di atas. Penelitian di laboratorium basah (wet laboratory) seperti demikian bila dilakukan dalam skala besar, akan menggunakan bahan dan alat laboratorium, serta tenaga, waktu, dan dana yang banyak. Kalau hasilnya bisa diramalkan dengan akurat, maka struktur-struktur yang mungkin akan memberikan aktivitas yang rendah dapat dihindari. Dengan demikian, jumlah struktur yang akan diteliti aktivitasnya menjadi lebih sedikit. Dengan berkurangnya jumlah struktur tersebut, maka sumberdaya-sumberdaya yang kelak terpakai untuk meneliti aktivitasnya akan menjadi lebih sedikit pula. Atau dalam ungkapan lain: ramalan aktivitas yang akurat menyebabkan penghematan sumberdaya penelitian SAR. Inilah manfaat yang kita harapkan dari komputasi di dalam pencarian obat.


Hakikat Komputasi

Untuk meramalkan aktivitas sejumlah besar calon obat, seorang praktisi komputasi meniru suasana pengujian aktivitasnya di laboratorium basah dengan model-model Fisika atau Matematika (seperti: struktur 3 dimensi calon obat) sebagai pengganti bahan-bahan laboratorium tersebut. Model-model ini kemudian dinyatakan di dalam persamaan-persamaan Matematika yang kemudian diselesaikan oleh komputer dengan kapasitas dan kelajuan yang melebihi kapasitas dan kelajuan manusia. Hasilnya berupa suatu bilangan bagi tiap calon obat yang dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. Perbandingan ini merupakan ramalan tingkat aktivitas suatu calon obat relatif terhadap calon obat lainnya. Demikianlah cara meramalkan aktivitas calon obat dengan metode komputasi. Dengan demikian, calon-calon obat yang diramalkan akan memberikan aktivitas yang rendah dapat dihindari.

Akurasi komputasi bergantung kepada model Fisika atau Matematika yang dibuat untuk meniru suasana pengujian aktivitas di laboratorium basah. Semakin dekat model itu dengan suasana pengujian aktivitas tersebut, maka semakin tinggi akurasi komputasinya. Tentu saja, tidak ada akurasi 100%, karena akurasi demikian hanya bisa dicapai dengan pengujian aktivitas yang sebenarnya. Untuk mendekati akurasi 100% saja, diperlukan persamaan Matematika yang rumit yang sulit diselesaikan dengan cepat oleh komputer. Padahal, komputasi diharapkan dapat memberikan ramalan lebih cepat daripada penyediaan calon obat dan pengujian aktivitasnya di laboratorium basah. Karena itu, perlu ada kompromi antara tuntutan akan akurasi tersebut dan kelajuan komputasi. Akurasi yang moderat tidak apa-apa, asalkan komputasinya laju. Seiring dengan kemajuan di dalam pemodelan, persamaan Matematika, pemrograman, dan perangkat keras komputer, akurasi komputasi kelak akan meningkat, in sya-a Allah.

Seiring dengan kemajuan-kemajuan itu pula, kita memperoleh manfaat lainnya dari metode komputasi, yaitu visualisasi kerja obat. Molekul obat yang tidak kasat mata (mikroskopik) dan gerakannya yang sangat cepat dapat diperiksa dengan lebih seksama dengan fasilitas grafis (Graphical User Interface = GUI) yang tersedia pada perangkat lunak komputasi.

Untuk penelitian SAR calon obat skala besar, biaya komputasi jauh lebih rendah daripada biaya pengujian aktivitas di laboratorium basah. Menurut Young (2009), biaya per calon obat (cost per compound) untuk komputasi lazimnya adalah 10 dollar AS, sedangkan untuk pengujian aktivitas secara in-vitro lazimnya adalah 400 – 4.000 dollar AS. Dengan demikian, metode komputasi dapat membantu menghemat sumberdaya penelitian SAR calon obat.

Patut disadari sejak awal bahwa komputasi bukanlah pengganti total pengujian aktivitas di laboratorium basah. Ramalan dari komputasi pada akhirnya harus tetap dibuktikan dengan pengujian aktivitas di laboratorium basah. Kepercayaan konsumen terhadap obat harus dibangun berdasar pengujian tersebut, bukan berdasar komputasi.

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumberdaya hayati. Keragaman sumberdaya hayati Indonesia tertinggi ke-2 di dunia setelah Brazil. Bahkan, sebagian dari sumberdaya itu hanya terdapat di Indonesia saja (endemik). Boleh jadi, semakin khas suatu sumberdaya hayati, semakin unik pula struktur senyawa organik yang dikandungnya. Dengan akurasi dan efisiensi yang ditawarkannya, metode komputasi dapat membantu di dalam mengungkap potensi bioaktivitas senyawa itu. Dengan terungkapnya potensi tersebut, sumberdaya hayati yang dapat diperbarui itu akan memperoleh nilai dagang yang baru (added value) yang bermanfaat bagi perekonomian rakyat.

Rujukan:

[1] Gunsteren, W.F. van; Bakowies, D.; Baron, R.; Chandrasekhar, I.; Christen, M.; Daura, X.; Gee, P.; Geerke, D.P.; Glattli, A.; Hunenberger, P.H.; Kastenholz, M.A.; Oostenbrink, C.; Schenk, M.; Trzesniak, D.; dan Vegt, N.F.A. van der. 2006. Biomolecular Modelling: Goals, Problems, Perspectives. Angew. Chem. Int. Ed., 45, 4064-4092.
[2] Patrick, G.L. 2001. Instant Notes in Medicinal Chemistry. BIOS Scientific Publisher.
[3] Young, D.C. 2009. Computational Drug Design: A Guide for Computational and Medicinal Chemists. John Wiley and Sons, Inc.

[Tulisan ini pertama kali dimuat pada Buletin Istecs Europe edisi Juli 2009.]

Senin, Juni 29, 2009

Sedekah Iptek

Rekan muda, mungkin di antara Anda ada yang saat ini telah mendapat karunia meneruskan pendidikan di luar negeri, atau sedang berusaha agar dapat meneruskan pendidikan di luar negeri. Boleh jadi, kegiatan tersebut hukumnya fadhu kifayah. Maksudnya, kegiatan itu diwajibkan menurut agama karena ilmu yang sedang / akan dipelajari itu bernilai vital bagi bangsa Indonesia. Tetapi, kewajiban itu dibebankan tidak kepada tiap orang, melainkan hanya kepada orang-orang yang sanggup melakukannya (yaitu Anda) dengan jumlah yang memadai. “Kifayah” berasal dari kata “kafa” ( = cukup). Jadi, kewajiban itu baru dapat tertunaikan oleh sekian orang dengan jumlah yang memadai. Mungkin dibutuhkan seratus orang mahasiswa S2 atau S3 Indonesia untuk menguasai ilmu itu; mungkin juga seribu atau lebih. Maka bersyukurlah Anda karena telah menjadi bagian dari pelaksana fardhu kifayah tersebut.

Ada banyak manfaat sampingan yang bisa diraih dari kuliah di luar negeri. Antara lain: memperoleh pengalaman merasakan suasana kehidupan di luar negeri, mendapat penghasilan tambahan dari beasiswa atau part-time job, dan mendapat modal untuk meningkatkan kredit fungsional. Semua itu adalah manfaat-manfaat yang halal. Tetapi, hendaknya motivasi kuliah di luar negeri tidak hanya untuk mengejar manfaat-manfaat sampingan itu.

Nabi Muhammad SAW bersabda:



“ Ketika meninggal seorang manusia, terputuslah pahala amalnya, kecuali pahala dari 3 amal, yaitu dari: sedekah jariyah, pengetahuan yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan dia.” (Muslim. Al-Jami' al-Shahih, 3(4005)).

Jadi, manfaat-manfaat sampingan di atas tidak berdampak kepada masa depan kita yang sejati, yaitu masa sesudah kematian, melainkan berdampak di dunia ini saja. Justru, yang berdampak kepada masa depan tersebut adalah ketiga hal di atas.

Sedekah jariyah ialah sedekah yang manfaatnya dapat dirasakan terus oleh orang lain. Bila kita menghasilkan suatu teknologi – misalnya: bibit kedelai yang dapat tumbuh di lahan yang kurang subur – , lalu teknologi itu terpakai terus oleh para pekebun kedelai se-Indonesia, maka teknologi itu bernilai sedekah jariyah bila diniatkan semata-mata karena Allah. Pahalanya akan tetap mengalir kepada kita, walaupun kita sudah meninggal. Demikian pula pengetahuan yang bermanfaat, yang kita sebarkan melalui jurnal-jurnal, buku-buku, tulisan-tulisan ilmiah populer, blog, dan lain-lainnya.

Ketiga hal di atas merupakan passive income buat kita. Barangkali kita tidaklah termasuk orang yang melakukan banyak ibadah sunnah, seperti: salat wajib berjamaah, berdzikir, membaca al-Qur-an, berpuasa sunnah, dan lain-lainnya. Tetapi, dengan ketiga hal tersebut, kita tetap dapat menyiapkan bekal untuk akhirat kelak sambil melakukan pekerjaan sehari-hari.

Kembali kepada ilmu yang vital di atas: ada 2 jenis iptek yang paling dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Pertama, iptek untuk memberi nilai tambah kepada sumberdaya alam Indonesia yang terbarukan. Iptek jenis ini dapat memicu tumbuhnya sektor perekonomian hulu (pertanian dan industri) dan sektor perekonomian hilir (perdagangan dan jasa), sehingga menghasilkan dampak yang luas atau kebaikan yang banyak (barakah) bagi bangsa Indonesia (meningkatkan penghasilan dan mutu kehidupan, membuka lapangan kerja, mengurangi kriminalitas, dan lain-lainnya). Kedua, iptek untuk menghasilkan barang atau jasa yang lebih unggul daripada barang atau jasa di pasaran saat ini. Iptek jenis ini dapat membalik situasi pasar (pengusaha kecil menjadi pengusaha besar), sehingga timbul re-distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Iptek ini sesuai dengan semangat al-Qur-an: “... supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (Terjemahan Surat al-Hasyr: 7).

Bila Anda kuliah di luar negeri, ingatlah bahwa Anda termasuk segelintir (the lucky few) pengemban fardhu kifayah itu. Tidak ada orang lain selain Anda dkk yang sanggup melakukannya. Maka manfaatkanlah akses ke perguruan tinggi atau lembaga riset di luar negeri itu. Bagilah akses itu dengan rekan-rekan Anda di Indonesia, dan pertahankanlah akses itu setelah Anda lulus. Ada 2 jenis akses yang patut kita share dan pertahankan, yaitu: akses kepada ilmuwan di sana, dan akses terhadap pustaka-pustaka penting yang tidak ada di Indonesia.

Negara kita – dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya – berpotensi menjadi salah satu dari 5 negara terkuat di dunia, bersama: Cina, Amerika Serikat, India, dan Uni Eropa. Dibutuhkan 3 unsur lagi untuk mengujudkan harapan itu, yaitu: pemerintahan yang bersih dan profesional, iptek-iptek kunci, dan investasi. Kita bisa turut berperan di dalam mengujudkan cita-cita itu dengan menguasai iptek-iptek kunci tersebut.

Bila motivasi kita terbatas pada manfaat-manfaat sampingan di atas, maka produktivitas kita akan terbatas pula. Tetapi bila kita berniat melaksanakan fardhu kifayah itu untuk sedekah iptek dengan visi di atas, maka kita tidak akan berhenti sebelum visi itu tercapai. Kita akan terus menjalin network dengan para ahli di luar negeri, menjelajahi berbagai pustaka yang relevan, memantau perkembangan iptek-iptek kunci, menghadirkan teknologi-teknologi kunci bagi bangsa Indonesia, menyebarkan pengetahuan-pengetahuan yang telah kita peroleh, dan mewariskannya kepada mahasiswa-mahasiswa bimbingan kita.

Kuliah di luar negeri di sisi lain merupakan ujian: meninggalkan keluarga tercinta, berusaha beradaptasi dengan alam dan budaya yang asing buat kita, berusaha lulus dengan nilai yang bagus, dan mengatasi persoalan-persoalan teknis sehari-hari. Bila kita menjalani semua kesulitan dan masalah itu semata-mata karena Allah, dengan niat sedekah iptek untuk mencapai visi mulia di atas, maka kita termasuk orang-orang yang sedang berjuang (berjihad). Dan Allah menolong orang-orang yang berjihad. Percayalah, Allah akan memelihara keluarga yang kita tinggalkan di tanah air, membantu kita di dalam perkuliahan, dan membantu kita di dalam berbagai persoalan selama kuliah tersebut. ■